psikologi di balik fenomena FOMO vs JOMO
Pernahkah kita sedang bersantai di rumah pada Jumat malam, lalu iseng membuka media sosial? Kita melihat teman-teman sekantor sedang tertawa di sebuah kafe estetik, menautkan gelas-gelas minuman mereka, tanpa kita. Tiba-tiba, teh hangat di tangan terasa hambar. Dada sedikit berdebar dan ada perasaan gelisah yang tidak diundang menyelinap masuk. Kita sering menyebut sensasi tidak nyaman ini sebagai Fear Of Missing Out atau FOMO. Rasanya persis seperti kita sedang tertinggal dari sebuah pesta besar bernama kehidupan. Namun, mari kita jujur sebentar dan berpikir kritis. Mengapa melihat orang lain memakan piza dan berfoto bersama bisa membuat kita merasa terancam secara eksistensial? Jawabannya ternyata jauh lebih dalam, dan jauh lebih ilmiah, dari sekadar masalah tidak diajak nongkrong.
Untuk memahami asal muasal rasa cemas ini, kita harus mundur sekitar seratus ribu tahun yang lalu. Bayangkan kita adalah manusia purba yang hidup mengembara bersama suku kita di padang sabana. Pada masa itu, informasi adalah kunci mutlak keselamatan hidup. Mengetahui di mana letak sumber air tawar atau tahu kapan suku tetangga akan menyerang adalah hal yang sangat krusial. Jika kita ketinggalan informasi terbaru saat berkumpul di api unggun, risiko terburuknya bukan merasa insecure, melainkan dimakan predator atau mati kelaparan. Secara biologis, otak kita—khususnya bagian pusat emosi yang bernama amygdala—diprogram untuk membunyikan alarm kepanikan saat kita terisolasi dari kelompok. Jadi, saat teman-teman merasa cemas melihat unggahan liburan orang lain, itu bukan karena kita lemah, kekanak-kanakan, atau kurang bersyukur. Itu adalah respons evolusioner purba kita yang sedang bekerja dengan sangat baik. Di level bawah sadar, otak kita masih mengira bahwa dijauhi dari kelompok berarti kematian.
Masalahnya, perangkat keras otak purba kita ini sekarang harus berhadapan dengan dunia modern. Kita diwajibkan memproses ribuan informasi dari media sosial setiap harinya. Algoritma raksasa teknologi sangat memahami kecemasan biologis dasar ini. Mereka memanfaatkannya sebagai bahan bakar agar kita terus menatap layar, terus merasa kurang, dan terus merasa ada sesuatu yang jauh lebih seru di luar sana. Kita terjebak dalam roda hamster digital. Namun, belakangan ini muncul sebuah fenomena tandingan yang sangat menarik. Sebagian orang justru mulai berani mematikan notifikasi mereka. Mereka memilih membaca buku di rumah, dengan sengaja melewatkan konser viral, dan yang paling aneh: mereka terlihat sangat bahagia melakukannya. Fenomena ini dikenal dengan sebutan Joy Of Missing Out atau JOMO. Pertanyaannya, bagaimana bisa seseorang melawan alarm ancaman kematian dari otak purba mereka, lalu mengubahnya menjadi kedamaian yang paripurna? Rahasianya ternyata ada pada sebuah pergeseran psikologis yang luar biasa.
Pergeseran dari FOMO menuju JOMO bukanlah sekadar narasi soal menjadi antisosial atau bersikap "bodo amat". Secara neurologis, JOMO terjadi ketika kita berhasil memindahkan kendali dari amygdala yang panik tadi, menuju ke prefrontal cortex. Ini adalah area otak bagian depan yang mengurus pemikiran logis, perencanaan, dan pengambilan keputusan. Ini adalah ilmu psikologi murni yang berpijak teguh pada Self-Determination Theory atau Teori Determinasi Diri. Menurut teori ini, kesejahteraan mental manusia sangat bergantung pada satu hal esensial: otonomi. Saat kita mengalami FOMO, kendali kebahagiaan kita sedang dibajak oleh tindakan orang lain. Kita hanya bereaksi. Sebaliknya, JOMO adalah momen ketika kita merebut kembali kemudi tersebut. Kita bukannya pasrah karena tidak diajak, melainkan kita memilih dengan sadar untuk mengarahkan energi pada apa yang benar-benar bermakna bagi kita saat itu. JOMO adalah sebuah deklarasi internal bahwa kita memiliki otoritas penuh atas perhatian kita sendiri. Kebebasan sejati ternyata bukan tentang kemampuan untuk hadir di semua tempat, melainkan keberanian untuk tidak berada di sana.
Tentu saja, mempraktikkan JOMO di tengah dunia yang bising dan hiperkoneksi ini bukanlah hal yang mudah. Adalah hal yang sangat manusiawi jika sesekali kita masih merasa iri saat melihat pencapaian atau keseruan orang lain. Jika besok lusa perasaan gelisah itu muncul lagi, kita tidak perlu menghakimi diri sendiri. Ingatlah bahwa itu hanyalah sisa-sisa insting manusia purba di dalam diri kita yang sedang menyapa. Coba tersenyumlah pada perasaan cemas itu, lalu tarik napas yang panjang. Mari kita tanyakan pada diri sendiri: apakah saya benar-benar ingin berada di sana, atau saya hanya takut tertinggal? Memilih untuk merangkul ketidakhadiran kita di kehidupan orang lain sebenarnya memberi kita ruang yang luas untuk hadir sepenuhnya di kehidupan kita sendiri. Teman-teman, dunia ini tidak akan kiamat hanya karena kita melewatkan satu atau dua cerita viral. Pada akhirnya, kita akan menyadari satu hal. Terkadang, pesta terbaik dan termewah adalah kedamaian pikiran yang kita ciptakan sendiri di dalam keheningan kamar.